Saya terlalu tua untuk bermain Football Manager

Semasa kuliah saya bisa menghabiskan berjam-jam untuk memainkan game Football Manager (FM). Bangun pagi main FM dulu, siap-siap berangkat ngampus main lagi, pulang dari kampus main lagi. Bisa dibilang 68% waktu saya habiskan untuk memainkan game ini.

Game ini memang bukan game dengan grafik paling canggih atau jalan cerita paling menarik. Yang ditawarkan FM tak lebih dari sebuah dunia imajiner. Fantasi mayoritas penggemar sepak bola untuk mengatur klub kesayangan dan menjuarai kompetisi Liga Champions berhasil dipuaskan oleh Sports Interactive melalui game ini.

Kebiasaan bermain game FM ini berlanjut hingga saya bekerja. Dunia imajiner FM nampaknya lebih kuat dari deadline kerjaan kantor. Tak jarang saya cari waktu di sela-sela rapat atau jam istirahat untuk sekedar berburu wonderkid.

Namun semua itu berubah ketika negara api menyerang Macbook saya rusak. Selama beberapa waktu saya tak bisa melanjutkan permainan laknat ini. Saya bisa saja memasang game ini di laptop kantor, namun entah kenapa saya malas melakukannya.

Hingga setelah punya rejeki beli laptop baru game pertama yang saya pasang adalah (tentu saja) Football Manager 2013(?). Selama sebulan saya memainkan game ini dan akhirnya saya memutuskan mengakhiri kebersamaan saya dengan permainan terkutuk ini. Gameplay-nya semakin ruwet, taktiknya semakin detil dan kompleks. Yang paling menyebalkan, game ini kalah stabil dibanding seri sebelumnya.

Saya pun beralih ke versi ponsel game ini, Football Manager Handheld. Tapi semenarik-menariknya versi ponsel tidak akan bisa menghadirkan imajinasi sehebat versi PC ataupun Mac. Malahan ada kecenderungan kalau FM Handheld terasa membosankan setelah dimainkan selama lebih dari tiga bulan.

Akhir tahun lalu, entah karena bosen entah karena lagi selo saya coba memasang FM 2015 di laptop. Hasilnya? Saya Cuma bertahan lima menit! Ya, lima menit saja memainkan game ini membuat saya langsung memutuskan untuk menghapus mantra setan ini dari laptop.

Lagi-lagi saya merasa game ini terlalu ruwet dan kompleks. Semakin ruwet game ini semakin banyak waktu dan konsentrasi yang dibutuhkan untuk main. Di sini saya menyadari kalau saya tak lagi punya waktu seluang dulu semasa kuliah. Waktu luang yang berharga lebih baik saya pakai untuk hal lain yang lebih santai seperti nelpon mbak pacar.

Selain itu obsesi saya untuk membawa klub divisi 2 RB Leipzig menjuarai Liga Champions seolah hilang. Memang ada kepuasan tersendiri ketika berhasil membawa klub gurem masuk kompetisi papan atas. Begitu juga ketika mendapati wonderkid binaan kita menjelma menjadi kandidat pemain terbaik dunia. Namun kepuasan itu hanya sesaat, hanya ada dalam khayalan kita yang disimulasikan oleh FM.

Corn Flakes, Andalan Saat Mager

Akhir pekan seringkali kita dihinggapi virus mager (males gerak). Entah karena capek seminggu kerja, atau cuaca yang kurang mendukung untuk berbagai aktifitas. Atau mungkin kondisi badan lagi kurang fit sehingga untuk mencegah sakit perlu me-mager-kan diri.

Pada saat mager sedang mencapai puncak, seringkali untuk cari makan saja males. Apalagi kalau film donlotan IDWS yang ditonton lagi seru-serunya, males rasanya ninggalin. Beberapa pelaku mager menyiasati dengan pesan makanan via delivery service. Entah itu empat belas kosong sekian sekian atau titip penjaga kos. Sebagian lain menyiasati dengan mie instan.

Saya sendiri dulunya menyiasati dengan mie instan, terutama mie gelas. Praktis, ndak perlu masak. Tinggal tuang air panas langsung lhebbb. Tapi lama-lama kepikiran juga, kandungan MSG dalam mie instan kan cukup banyak, bisa-bisa malah jadi penyakit di kemudian hari. Lanjutkan membaca “Corn Flakes, Andalan Saat Mager”