(Bukan) Mencoba Membahas Ayat-ayat Cinta 2

Sewaktu muncul trailer Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC2) saya tidak termasuk orang yang tertarik menonton film ini. Memang film-film drama Indonesia bukan preferensi saya. Saat film ini tayang di bioskop pun saya sendiri masih belum berminat menontonnya. “Paling gak beda jauh sama yang pertama”, begitu pikir saya.

DSC_0705

Namun setelah membaca berita tentang ramainya penonton film ini plus berbagai kritikan dan makian yang rame di sosmed, saya pun memutuskan untuk menonton film ini. Saya tak berharap banyak, karena memang sudah tahu cerita dari review novelnya. Plus bagaimana penggambaran karakter utama Fahri yang menurut saya (dan saya yakin mayoritas pun berpendapat sama) terlalu sempurna.

Seting Cerita di Luar Negeri

AAC2 bukan film Indonesia pertama dengan seting luar negeri. Dari beberapa film dengan seting serupa yang pernah saya tonton umumnya menampilkan pemandangan khas daerah tersebut. Pun demikian dengan AAC2, terlihat sekilas pemandangan gedung tua, jalanan serta tak lupa pemandangan lingkungan kampus Edinburgh. Meski dibanding film lainnya porsinya lebih sedikit.

Bagian paling mengganggu bagi saya adalah bagaimana tokoh di film ini berganti bahasa. Di awal pertemuan tokoh-tokohnya berbahasa Inggris dan Jerman, lantas di kalimat berikutnya berganti bahasa Indonesia. Kenapa nggak dari awal pakai bahasa Indonesia saja? Biar kaya film-film Hollywood yang sepenuhnya in English, bahkan sampai makhluk dimensi lain macam Loki, Thor dan Odin yang erat kaitannya dengan mitologi Nordik sepanjang film ngomong bahasa Inggris terus.

Selain itu aktor Indonesia yang memerankan tokoh dari negara lain pun terkesan aneh. Pandji Pragiwakso dan Matthias Muchus yang memerankan tokoh berdarah Turki (yang mungkin ada campuran Jerman) serta Dewi Irawan yang memerankan tokoh berkebangsaan (mungkin) Israel, terasa kurang pas. Tapi biarlah toh aktor Amerika Serikat Jake Gyllenhaall pernah memainkan karakter berdarah Persia dan aktris berwajah oriental Kelly Hu memainkan dukun asal Mesir.

Jalan Cerita

Ceritanya aneh. Saya sih kurang suka. Banyak hal-hal yang membuat kita berpikir, “kok bisa seperti ini?”. Belum lagi ada beberapa bagian yang terkesan dipaksakan. Seperti halnya film (dan novel) yang pertama sosok Fahri terlalu baik dan gampang banget disukai perempuan sampai membuat jomblo-jomblo ngenes iri.

Tapi mau gimana lagi. Jalan cerita film ini kan diambil dari novel. Nikmati saja…..

Meski begitu tak seluruhnya dari jalan cerita film ini jelek. Saya suka beberapa detil penggambaran kehidupan orang Indonesia saat merantau ke luar negeri. Contohnya, kedatangan Misbah ke Edinburgh dengan menumpang rumah Fahri, atau saat Fahri memilih mencomot tempe mendoan dibanding makanan lain. Dua detil tersebut terkesan khas Indonesia, dan bisa lebih Indonesia lagi kalau ada adegan Fahri meminta dibawakan Indomie dari tanah air.

Film Score

Penata musik film ini memang lihai. Adegan-adegan sedih, senang, jatuh cinta jadi lebih berasa dengan tata musik yang pas. Bisa dibilang dengan tata musik yang pas kita jadi berempati dengan perasaan si karakter. Applaus buat penata musik….

Eh tapi, selain penata musik pihak lain yang terlibat juga layak diberi tepuk tangan. Ada para aktor dan aktris yang meskipun secara muka dan perawakan kurang pas memainkan karakter bule patut diacungi jempol. Setidaknya saya tidak merasa ada akting yang wagu atau tidak natural.

Begitu juga dengan sudut pengambilan gambar, ada beberapa hal yang saya suka. Misal saat adegan sholat berjamaah di masjid dengan Imam sebagai foreground dan Fahri sebagai obyek utama. Begitu juga saat adegan misbah menasehati Fahri yang disambung dengan menampilkan keduanya dalam masjid dengan tiang-tiang yang tinggi, berlatar gelap dengan cahaya lampu yang tegas.

Pesan moral

Dari beberapa orang yang saya tanyai mengenai kesan di film AAC2, rata-rata menyebut film ini sarat pesan moral. Banyak sekali memang pesan moral yang ada di film ini, seperti memuliakan tetangga atau mengakui kesalahan. Sayang seribu sayang semua pesan moral ini bermuara ke sosok Fahri. Saya sih lebih suka jika pesan moral ini diselipkan melalui tak hanya satu tapi beberapa karakter penting film ini. Ah, tapi kalau ndak Fahri-sentris bukan Ayat-Ayat Cinta namanya..

Kesimpulan

Film ini ndak sejelek Azrax dan lebih bagus dari Justice League. Ya itulah yang ada di kepala saya begitu keluar dari studio. Ceritanya memang aneh dan cenderung maksa, tapi tim produksi berhasil mengemasnya menjadi tontonan yang lumayan. Mengapa harus dibanding kedua film ini? Azrax bagi saya menjadi semacam barometer film jelek. Saking jeleknya film ini sungguh amat sangat menghibur. Belum lagi beberapa komentar di medsos yang mencoba membandingkan AAC2 dengan Azrax, membuat saya beneran mencoba membandinkan.Sementara Justice League adalah film terakhir yang saya tonton sebelum AAC2. Menurut saya Justice League jauh dari maksimal jika melihat potensi aktor, dana serta dukungan tim kreatif DC Comics.
Lalu apa saya akan merekomendasikan AAC2? Tergantung, jika butuh hiburan yang santai film ini layak jadi pilihan. Apalagi jika sudah membaca versi novelnya, silahkan datang, duduk, tonton dan bandingkan mana yang lebih oke. Atau jika butuh film drama romantis yang bisa ditonton bareng gebetan, pacar, suami/istri atau konco mesra bolehlah film ini ditonton.
Tapi kalau butuh film yang akan membuat kita tercengang selepas keluar dari gedung bioskop, tentu film ini kurang pas. Jalan ceritanya terlalu aneh dan membuat kita bakal geleng-geleng kepala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s