Jalan-jalan ke Pulau Pari

Kepulauan seribu menjadi salah satu destinasi wisata favorit warga Jakarta. Dengan biaya cukup terjangkau, kepulauan seribu menawarkan suasana liburan yang jauh dari suasana hiruk-pikuk ibukota, meski secara administratif masuk wilayah propnsi DKI Jakarta. Saya sendiri beberapa kali menjadikan kepulauan seribu sebagai destinasi liburan.

Akhir September lalu, saya mendapat ajakan dari suprie untuk liburan ke Pulau Pari, salah satu pulau di wilayah kepulauan seribu. Sudah lama saya penasaran dengan Pulau Pari, beberapa teman yang pernah mengunjungi pulau tersebut selalu merekomendasikan pulau Pari sebagai salah satu destinasi berlibur. Karena penasaran ajakan suprie pun saya iyakan, meski yang bersangkutan mendadak batal jalan.

Seperti umumnya perjalanan ke wilayah kepulauan seribu, kita harus berangkat pagi-pagi buta. Jadilah Sabtu (28/9) subuh saya bersama Eva, Angga & Hars patungan taksi menuju dermaga keberangkatan, Dermaga Marina Ancol. Di Dermaga kita berkumpul dengan teman-teman yang lain, ada Mbak Chichi, Mbak Elvi, om Doni dan lain-lain.

Jam 7 pagi kapal berangkat dari Marina. Perjalanan ke pulau Pari menempuh waktu sekitar 50 menit menggunakan kapal cepat. Harga tiket di Dermaga Marina memang agak mahal dibanding kapal dari dermaga Muara Angke, 167 ribu rupiah. Namun mahalnya harga tiket dikompensasi dengan kebersihan dan kemudahan akses dermaga. Ono rego, ono rupo.

Sesampai di pulau Pari rombongan yang bersama pemandu mas Teguh langsung menuju penginapan. Seperti umumnya penginapan di wilayah kepulauan seribu, penginapan di Pulau Pari pun berupa rumah penduduk yang disewakan.

Pulau Pari sendiri tidak begitu luas. Mungkin cukup satu jam untuk mengelilingi pulau yang bentuknya memanjang ini. Untuk mejelajah Pulau Pari, bisa dengan jalan kaki atau menyewa sepeda. Mayoritas warga dan wisatawan memilih menggunakan sepeda untuk menjelajah Pulau Pari.

Hanya ada satu jalan utama di Pulau Pari. Di sepanjang jalan yang membentang dari tepi barat ke tepi timur Pulau Pari ini berjajar rumah-rumah penduduk yang disewakan. Oh ya, warung-warung Indomie juga banyak ditemukan di sepanjang jalan.

Pagi hingga menjelang siang, kami menghabiskan waktu di Pantai Pasir Perawan. Pasir putih membentang di sepanjang pantai. Di sekitar pantai terdapat perahu-perahu kecil yang disewakan untuk berkeliling. Harga sewanya saya agak lupa, kalau ndak salah sekitar 30 sampai 50 ribu.

20130928_095512b

Warung makan dan saung banyak ditemukan di Pantai Pasir Perawan.  Meski di daerah tujuan wisata, harga makanan masih normal, tidak seperti di beberapa daerah wisata yang warganya menggunakan aji mumpung.

Terus kenapa dinamai Pantai Pasir Perawan? Well, kebetulan saya ndak sempat tanya ke penduduk setempat. Namun menurut cerita si kucingbloon di pantai ini pernah ada anak perempuan yang hilang dibawa kawanan burung gagak. Warga mencari-cari namun tidak pernah ketemu. Karena si anak yang hilang ini masih kecil (dan perawan tentunya) maka pantai tersebut dinamai Pantai Pasir Perawan.

Pantai Pasir Perawan, jepretan @nevanov

Selain menawarkan keindahan alam, Pantai Pasir Perawan juga menawarkan sarana hiburan lain. Malam minggu tempat ini menjadi tempat berkumpul warga Pulau Pari. Hidangan ikan bakar hingga musik dangdut menjadi daya tarik pantai ini di malam minggu.

Sore hari rombongan menikmati sunset di bekas pusat penelitian LIPI. Sayang lokasinya tidak seperti Pantai Pasir Perawan. Pantai di sekitar pusat penelitian LIPI ini agak kotor. Sampah berserakan di sekitar lokasi. Meski kotor, banyak wisatawan dan warga setempat menikmati senja di lokasi ini, mungkin karena lokasinya di pesisir barat.

Kombinasi sampah dan ramainya lokasi mengurangi kenikmatan senja di tempat ini. Belum lagi banyaknya pohon di pinggir pantai membuat warga dan wisatawan menumpuk di beberapa titik.

20130928_165204b
Senja di Pesisir Barat

Namun senja tetaplah senja. Meski lokasi pesisir barat ramai dan kotor, fenomena pergantian siang ke malam tetap memancarkan pesonanya. Warna jingga di ufuk barat seolah menyihir setiap manusia di pesisir barat. Semua yang hadir mengabadikan momen senja dengan cara masing-masing.

Hari kedua di Pulau Pari kami melakukan ritual wajib lain saat liburan, menikmati matahari terbit di pinggir pantai. Selepas subuh kami bergegas menuju dermaga, lokasi yang dipilih untuk menikmati matahari terbit. Sayang, langit pagi itu berawan. Tak ada pemandangan matahari terbit seperti yang diharapkan. Mau lihat matahari terbit saja kena PHP apalagi……. (silahkan diisi sendiri)

Gagal menyaksikan matahari terbit, kami lanjutkan agenda selanjutnya, snorkling. Area snorkling yang kami datangi adalah di sekitar Pulau Tikus dan Pulau Burung, dua pulau kecil di barat Pulau Pari. Sekilas variasi biota lautnya cukup banyak, meski masih kalah dibanding beberapa spot snorkeling lain di kepulauan seribu.

jepretan @nevanov

Sayangnya pantai di Pulau Tikus kotor. Sampah berserakan di sepanjang pantai. Mulai dari bungkus indomie, sterofoam hingga yang paling parah…. Batre! Iya, batre merek ABC yang itu. Menurut bapak pemilik kapal, Pulau Tikus biasanya bersih, hanya di waktu-waktu tertentu saja sering dapat kiriman sampah dari Jakarta.

Sesi snorkeling berakhir menjelang siang, Untung kapal yang akan membawa kita kembali ke Jakarta baru akan datang sore harinya. Lumayan masih ada waktu buat beres-beres dan menikmati semangkuk dua mangkuk Indomie 😀

Oh ya, Pulau Pari juga memiliki cemilan khas yaitu Dodol Rumput Laut. Bentuknya memanjang dan berwarna transparan, mirip dodol rumput laut bermerek. Rasanya sih lumayan enak, cocok buat pamer kalau habis liburan oleh-oleh.

Secara keseluruhan Pulau Pari cukup menarik sebagai destinasi liburan. Pantai Pasir Perawan menjadi daya tarik utama Pulau ini. Untuk snorkeling juga lumayan, meski masih kalah dibanding beberapa spot di sekitar Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Kalau mau kemah juga bisa, di pinggir pantai banyak ditemui tenda kecil.

Dari beberapa kunjungan saya ke wilayah Kepulauan Seribu barangkali di Pulau Pari ini yang lumayan ramai turis. Mungkin indikasi kalau banyak warga ibukota yang kurang piknik. Tapi memang terbukti, dua hari di Pulau Pari cukup buat menghilangkan penyakit “kurang piknik”.

12 pemikiran pada “Jalan-jalan ke Pulau Pari

  1. Lho, Pulau Pari bagus gini masa dibilang ga bagus sih sama kawanku? Aku tempo hari ngajakin dia ke sini, katanya percuma ga ada yang bisa dinikmati. Aku tertipu 😦

  2. suka ama gubuknya yg di pantai pasir perawan…
    lucu ya masyarakat setempat kasih namanya… cuma krn anak diculik aja… itu kan padahal cuma seorang kan mas? gimana klo banyak ya? pantai pasir banyak perawan kali dinamain xD

Tinggalkan Balasan ke mizanul Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s