Perlukah Sidang Isbat?

Setiap tahun kira-kira tiga kali setahun umat Islam di Indonesia menanti keputusan sidang Isbat. Sidang penentuan awal bulan Ramadhan dan bulan Syawal ini selalu menarik perhatian. Bagaimana tidak, hasil sidang isbat akan menentukan kapan mulai dan berhenti puasa. Kapan harus menjadwalkan Shalat Ied dan berapa anggaran konsumsi ta’jil selama sebulan.

meeting

Jika melihat esensinya sidang isbat menjadi sebuah keharusan. Di tengah banyaknya ormas Islam di Indonesia dengan metode penentuan Ramadhan masing-masing, diperlukan penengah untuk menyatukan pendapat seluruh ormas. Namun jika melihat catatan hasil sidang isbat yang sudah terjadi, sidang Isbat sebetulnya tidak perlu dilakukan.

Dalam setiap gelaran sidang Isbat hampir selalu terjadi selisih pendapat mengenai awal Ramadhan. Sebut saja kubu Hisab dan kubu Rukyat. Awal Ramadhan/ Syawal kubu rukyat seringkali berselang sehari dibanding kubu hisab, meski kadang jatuh pada hari yang sama.

Anehnya ditengah perbedaan pendapat dan mekanisme sidang yang mencoba menggabungkan kedua pendapat hasil sidang selalu sama. Kubu Rukyat selalu keluar sebagai “pemenang”. Kubu hisab seolah hanya menjadi pelengkap digelarnya sidang Isbat.

Fenomena aneh terjadi pada tahun 2011. Pemerintah lagi-lagi menetapkan awal bulan Syawal mengikuti kubu Rukyat. Padahal hasil perhitungan kubu Hisab didukung oleh hasil pengamatan di lapangan. Hilal sebagai indikasi awal bulan Syawal sudah nampak di beberapa titik pengamatan. Pengamatan di lapangan (yang ironisnya menggunakan metode rukyat) dianggap tidak sah. Kubu rukyat pun kembali “memenangkan” sidang Isbat.

Keanehan semakin nampak saat negara lain mengumumkan hasil penentuan awal bulan Syawal. Hampir seluruh dunia menetapkan 1 syawal sesuai dengan perhitungan kubu Hisab. Hanya 4 negara di dunia yang menetapkan 1 syawal sesuai hasil kubu rukyat. Diantara 4 negara tersebut, hanya Indonesia yang merupakan negara mayoritas muslim.

Fenomena ini berbuntut pada tahun 2012 lalu. Saat sidang Isbat penentuan awal Ramadhan, salah satu ormas pentolan kubu Hisab menolak hadir dalam sidang Isbat. Banyak pihak menyayangkan hal tersebut dengan alasan tidak adanya semangat persatuan.

Buat apa datang ke sidang Isbat jika pendapatnya tak pernah didengarkan? Toh tanpa keputusan pemerintah awal bulan Syawal versi kubu hisab dipakai banyak umat Islam di Indonesia.

Jika melihat catatan yang sudah-sudah rasanya sidang Isbat hanya semacam formalitas. Sejumlah kubu bahkan menyebut sidang Isbat hanya sebagai alat politik. Bagaimanapun juga hasil sidang Isbat sudah bisa kita tebak sebelum sidang dilangsungkan.

Saya sendiri secara pribadi sejak keanehan tahun 2011 tidak peduli dengan sidang Isbat. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang saya memilih mencari informasi dari sumber lain. Prinsip saya sederhana, dalam satu hari hanya ada satu tanggal.

Ingat hadits bagaimana Nabi Muhammad s.a.w. menyuruh seluruh umat membatalkan puasa saat ada sahabat melihat hilal dalam perjalanan pulang ke Madinah?

NB: gambar dari sini

2 pemikiran pada “Perlukah Sidang Isbat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s